Sabtu, 11 Mei 2013

Makalah Sejarah Perkembangan Ilmu Pada Masa Modern

BAB I
PENDAHULUAN

Masa modern merupakan identitas di dalam filsafat Modern. Pada masa modern rasionalisme semakin dipikirkan. Belum jelas dari kapan Abad Pertengahan berhenti. Namun, dapat dikatakan bahwa Abad Pertengahan itu berakhir pada abad 15 dan 16 sejak adanya krisis di zaman itu selama dua abad tersebut atau pada akhir masa Renaissance. Dikatakan masa renaissance karena pada waktu itu muncul gerakan renaissance.
Renaissance sendiri berarti kelahiran kembali, yang mengacu pada gerakan keagamaan dan kemasyarakatan yang bermula di Italia (pertengahan abad ke-14).Tujuan utamanya adalah merealisasikan kesempurnaan pandangan hidup Kristiani dengan mengaitkan filsafat yunani dengan ajaran agama Kristen dan juga dimaksudkan untuk mempesatukan kembali gereja yang terpecah-pecah.
Disamping itu, para humanis bermaksud meningkatkan suatu perkembangan yang harmonis dari keahlian-keahlian dan sifat-sifat alamiah manusia dengan mengupayakan kepustakaan yang baik mengikuti kultur klasik.
 Masa setelah Abad Pertengahan adalah masa Modern. Sekalipun, memang tidak jelas kapan berakhirnya Abad Pertengahan itu. Akan tetapi, ada hal-hal yang jelas menandai masa Modern ini, yaitu berkembang pesat berbagai kehidupan manusia Barat, khususnya dalam bidang kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan ekonomi. Usaha untuk menghidupkan kembali kebudayaan klasik Yunani-Romawi. Kebudayaan ini pulalah yang diresapi oleh suasana kristiani. Di bidang Filsafat, terdapat aliran yang terus mempertahankan masa Klasik.
Pada makalah ini saya akan sedikit banyak mengkaji beberapa indikator yakni tentang:
·         Definisi/karakteristik pemikiran pada Masa Modern.
·         Tokoh/filosof yang hidup pada Masa Modern.
·         Pemikiran tokoh/filosof yang hidup pada Masa Modern.
Makalah ini saya buat dengan tujuan untuk memperkenalkan mahasiswa/mahasiswi maupun para pembaca tentang filsafat pada masa modern, meningkatkan pengetahuan tentang filsafat pada masa modern dan sebagai memenuhi tugas Mata Kuliah Filsafat Ilmu yang di ampu oleh Bapak Afid Burhanuddin, S.Pd.


BAB II
PEMBAHASAN

A.   Definisi/karakteristik pemikiran pada Masa Modern.
              Pada masa modern ini pemikiran filosofis seperti dilahirkan kembali dimana sebelumnya dominasi gereja sangat dominan yang berakibat pada upaya mensinkronkan antara ajaran gereja dengan pemikiran filsafat. Kebangkitan kembali rasio mewarnai zaman modern dengan salah seorang pelopornya adalah Descartes, dia berjasa dalam merehabilitasi, mengotonomisasi kembali rasio yang sebelumnya hanya menjadi budak keimanan.

Diantara pemikir-pemikir zaman modern ada Descartes (1596-1650) yang berteorikan Rasionalisme, ajarannya punya pengaruh yang besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan.Dalam perkembangannya argumen Descartes (rasionalisme) mendapat tantangan keras dari para filosof penganut Empirisme seperti David Hume (1711-1776), John Locke (1632-1704). Mereka berpendapat bahwa pengetahuan hanya didapatkan dari pengalaman lewat pengamatan empiris. Pertentangan tersebut terus berlanjut sampai muncul Immanuel Kant (1724-1804) yang berhasil membuat sintesis antara rasionalisme dengan empirisme, Kant juga dianggap sebagai tokoh sentral dalam zaman modern dengan pernyataannya yang terkenal sapere aude yang artinya berani berfikir sendiri, pernyataan ini jelas makin mendorong upaya-upaya berfikir manusia tanpa perlu takut terhadap kekangan.
Dalam era filsafat modern ini yang berlanjut pada abad ke-20, muncullah berbagai aliran pemikiran, yaitu:
1.    Rasionalisme.
Latar belakang munculnya konsep pemikiran Rasionalisme ialah keinginan untuk membebaskan diri dari segala pemikiran tradisional (skolastik), yang pernah diterima, tetapi ternyata tidak mampu menangani hasil-hasil yang dihadapi. Descartes menginginkan cara baru dalam berpikir, maka diperlukan titik tolak pemikiran pasti yang ditemukan dalam keragu-raguan. segala sesuatu bisa disangsikan tapi subjek yang berfikir menguatkan kepada kepastian.
Pelopor dari alirannya adalah Rene Descartes (1596-1650).
2.    Empirisme.
      Karena adanya kemajuan ilmu pengetahuan dapat dirasakan manfaatnya, pandangan orang terhadap filsafat mulai merosot. Hal ini terjadi karena filsafat dianggap tidak berguna lagi bagi kehidupan. Pada sisi lain, ilmu pengetahuan sangat besar sekali manfaatnya bagi kehidupan. Kemudian ada anggapan bahwa pengetahuanlah yang bermanfat, pasti dan benar hanya diperoleh lewat indera (empiri), dan empirilah satu-satunya sumber pengetahuan. Pemikiran tersebut lahir dengan nama Empirisme.
      Sebagai tokohnya ialah Thomas Hobbes (1588-1679), John Locke (1932-1704), David Hume (1711-1776).
3.    Kritisisme.
Aliran ini muncul pada abad ke-18, suatu zaman dimana seorang ahli pikir yang cerdas mencoba menyelesaikan pertentangan antara Rasionalisme dan Empirisme. Zaman baru ini disebut zaman Pencerahan (aufklarung). Zaman pencerahan ini muncul dimana manusia lahir dalam keadaan belum dewasa (dalam pemikiran filsafatnya). Setelah itu, manusia telah bebas dari otoritas yang datangnya dari luar manusia, demi kemajuan peradaban manusia.
      Sebagai latar belakang dari aliran ini manusia melihat adanya kemajuan ilmu pengetahuan (ilmu pasti, biologi, filsafat dan sejarah) telah mencapai hasil yang sangat bagus. Di sisi lain, jalanny filsafat terasa tersendat-sendat. Untuk itu diperlukan upaya agar filsafat dapat berkembang dengan ilmu pengetahuan.
      Tokoh – tokohnya antara lain Isaac Newton (1642-1727), Immanuel Kant (1724-1804).
4.    Idealisme.
Idealisme adalah suatu ajaran/faham atau aliran yang menganggap bahwa realitas ini terdiri atas roh-roh (sukma) atau jiwa. ide-ide dan pikiran atau yang sejenis dengan itu.Aliran ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah pikiran manusia. Mula-mula dalam filsafat Barat kita temui dalam bentuk ajaran yang murni dari Plato. yang menyatakan bahwa alam, cita-cita itu adalah yang merupakan kenyataan sebenarnya.
 Adapun alam nyata yang menempati ruang ini hanyalah berupa bayangan saja dari alam idea itu. Aristoteles memberikan sifat kerohanian dengan ajarannya yang menggambarkan alam ide sebagai sesuatu tenaga (entelechie) yang berada dalam benda-benda dan menjalankan pengaruhnya dari benda itu. Sebenarnya dapat dikatakan sepanjang masa tidak pernah faham idealisme hilang sirna sekali. Di masa abad pertengahan malahan satu-satunya pendapat yang disepakati oleh semua ahli pikir adalah dasar idealisme ini. Aliran ini muncul pada abad ke-18.
Pelopor aliran ini ialah J.G. Fichte (1762-1814), F.W.J. Schelling (1775-1854), G.W.F. Hegel (1770-1831), Arthur Schopenhauer (1788-1860).

5.    Positivisme.
Positivisme ini lahir pada abad ke-19. Titik tolak pemikirannya ialah apa yang telah diketahui adalah sesuatu yang faktual dan yang positif, sehingga aliran yang menganut metafisika ditolaknya. Maksud positif adalah segala gejala dan segala yang tampak seperti apa adanya, sebatas pengalaman- pengalaman objektif saja. Jadi, setelah fakta diperoleh, fakta-fakta tersebut di olah dan di atur untuk dapat memberikan asumsi (proyeksi) pada masa depan.
Beberapa tokoh aliran ini ialah August Comte (1798-1857), John S. Mill (1806-1873), Herbert Spencer (1820-1903).
6.    Evolusionisme.
Aliran evolusionisme ini dipelopori oleh seorang Zoologi yang sangat berpengaruh hingga saat ini yaitu Charles Robert Darwin (1809-1882).
7.    Materialisme.
Penganut aliran ini antara lain Julien de La Mettrie (1709-1751), Ludwig Feueurbach (1804-1872), Karl Heinrich Marx (1818-1883).
8.    Neo-Kantianisme.
Setelah aliran Materialisme semakin merajalela, banyak filosof-filosof jerman yang tidak puas terhadap Materialisme, Positivisme dan Idealisme. Mereka menginginkan kembali pada filsafat kritis yangbebas dari spekulasi Idealisme dan terbebas dari dogmatis Positivisme dan Materialisme. Gerakan ini di sebut dengan nama Neo-Kantianisme.
Tokoh aliran ini antara lain Wilhelm Windelband (1848-1915), Herman Cohen (1842-1918), Paul Natrop (1854-1924), Heinrich Reickhart (1863-1939).
9.    Pragmatisme.
Pragmatisme berasal dari bahasa Yunani, kata pragma yang artinya guna. Maka Pragmatisme adalah suatu  aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah apa saja yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan akibat – akibat yang bermanfaat secaraa praktis. Misalnya, berbagai pengalaman pribadi tentang kebenaran mistik, asalkan dapat membawa kepraktisan dan bermanfaat. Artinya, segala sesuatu dapat diterima asalkan bermanfaat bagi kehidupan.
Tokoh dari aliran Pragmatisme ialah William James (1842-1910).
10.  Filsafat Hidup.
Aliran filsafat ini lahir akibat dari reaksi dengan adanya kemajuan IPTEK yang menyebabkan indusitrialisasi semakin pesat. Hal ini mempengaruhi pola pemikiran manusia. Peranan akal pikir hanya digunakan untuk menganalisis sampai menyusun suatu sintesis baru. Bahkan alam semesta atau manusia dianggap mesin, yang tersusun dari beberapa komponen dan bekerja sesuai dengan hukum – hukumnya.
Tokoh dari aliran ini ialah Henry Bergson (1859-1941), John Dewey (1859-1952).
11.  Fenomenologi.
Fenomenologi berasal dari kata fenomen yang artinya gejala, yaitu suatu hal yang tidak nyata dan semu. Kebalikannya kenyataan juga dapat diartikan sebagai ungkapan kejadian yang dapat diamati lewat indera. Misalnya, orang yang menderita sakit demam gejalanya muka yang terlihat pucat, bersin – bersin dll. Dalam filsafat ini arti tersebut berbeda dengan yang dimaksud, yaitu suatu gejala tidak perlu harus diamati oleh indera, karena gejala juga dapat dilihat secara batiniyah dan tidak harus berupa kejadian – kejadian. Jadi, apa yang kelihatan dalam dirinya sendiri seperti apa adanya.
Tokoh aliran fenomenologi ialah Edmund Husserl (1839-1939), Max Scheler (1874-1928).
12.  Eksistensialisme.
Kata eksistensialisme berasal dari kata eks = ke luar, dan sistensi atau sisto = berdiri, menempatkan. Secara umum berart, manusia dalam keberadaannya itu sadar bahwa dirinya ada dan segala sesuatu keberadaannya ditentukan oleh subjek benda tersebut. Karena manusia selalu terlihat di sekelilingnya, sekaligus sebagai miliknya. Upaya untuk menjadi miliknya itu manusia harus berbuat menjadikan-merncanakan, yang berdasar pada pengalaman yang nyata/konkret.
Aliran ini merupakan aliran filsafat yang memandang berbagai gejala dengan berdasar pada eksistensinya. Artinya, bagaimana manusia berada  dalam dunia.
Pelopornya ialah Soren Kierkegaard (1813-1855), Martin Heidegger, J.P Sartre, Karl Jaspers, Gabriel Marcel.

13.  Neo-Thomisme.
Pada pertengahan abad ke-19, di tengah – tengah gereja Katolik banyak penganut paham Thomisme, yaitu aliran yang mengikuti paham  Thomas Aquinas. Pada mulanya dikalangan gereja terdapat semacam keharusan untuk mempelajari ajaran tersebut. Kemudian, akhirnya menjadi paham Thomisme, yaitu:
Pertama, paham yang menganggap ajaran Thomas sudah sempurna. Tugas kita adalah memberi tafsir sesuai denga keadaan zaman.
Kedua, paham yang menganggap bahwa walaupun ajaran thomas telah sempurna, tetapi masih terddapat hal-hal yang pada suatu saat belum dibahas. Oleh karena itu, sekarang perlu diadakan penyesuaian sehubungan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Ketiga, paham mengaggap bahwa ajaran Thomas harus diikuti, akan tetapi tidak boleh beranggapan bahwa ajarannya betul-betul sempurna.
B.   Para Tokoh filosof modern dan pemikirannya.
Perkembangan ilmu pengetahuan pada jaman modern tak lepas dari peran serta filosof yang mencetuskannya, beberapa faham diatas tentu di dalangi oleh intervensi dari filosof yang bersangkutan.
Demikian ada beberapa filosof dari masa modern yang telah menemukan konsep pemikiran modern dari berbagai paham:
a)    Rene Descartes.
René Descartes lahir di La Haye, Perancis, 31 Maret 1596 – meninggal di Stockholm, Swedia, 11 Februari 1650 pada umur 53 tahun, juga dikenal sebagai Renatus Cartesius dalam literatur berbahasa Latin, merupakan seorang filosof dan matematikawan Perancis. Karyanya yang terpenting ialah Discours de la méthode (1637) dan Meditationes de prima Philosophia (1641).
Rene Descartes sering disebut sebagai bapak filsafat modern. Rene Descartes lahir di La Haye Touraine-Prancis dari sebuah keluarga borjuis. Ayah Descartes adalah ketua Parlemen Inggris dan memiliki tanah yang cukup luas ( borjuis ). Ketika ayah Descartes meninggal dan menerima warisan ayahnya, ia menjual tanah warisan itu, dan menginvestasikan uangnya dengan pendapatan enam atau tujuh ribu franc pertahun. Dia sekolah di Universitas Jesuit di La Fleche dari tahun 1604-1612, yang tampaknya telah memberikan dasar-dasar matematika modern. Pada tahun 1612, dia pergi ke paris, namun kehidupan sosial disana dia anggap membosankan, dan kemudian dia mengasingkan diri ke daerah terpencil di Prancis untuk menekuni Geometri, nama daerah terpencil itu Faubourg. Teman-temannya menemukan dia di tempat perasingan yang ia tinggali, maka untuk lebih menyembunyikan diri, ia memutuskan untuk mendaftarkan diri menjadi tentara Belanda (1617). Ketika Belanda dalam keadaan damai, dia tampak menikmati meditasinya tanpa gangguan selama dua tahun. Tetapi, meletusnya Perang Tiga Puluh Tahun mendorongnya untuk mendaftarkan diri sebagai tentara Bavaria (1619). Di Bavaria inilah selama musim dingin 1619-1690, dia mendapatkan pengalaman yang dituangkannya ke dalam buku Discours de la Methode (Russel, 2007:733). Descartes, kadang dipanggil "Penemu Filsafat Modern" dan "Bapak Matematika Modern", adalah salah satu pemikir paling penting dan berpengaruh dalam sejarah barat modern. Dia menginspirasi generasi filosof kontemporer dan setelahnya, membawa mereka untuk membentuk apa yang sekarang kita kenal sebagai rasionalisme kontinental, sebuah posisi filosofikal pada Eropa abad ke-17 dan 18.
Pemikirannya membuat sebuah revolusi falsafi di Eropa karena pendapatnya yang revolusioner bahwa semuanya tidak ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa seseorang bisa berpikir (Rasionalisme).
Pemikiran Descartesyang penting adalah diktum kesangsian.Dalam bahasa Latin kalimat ini adalah: cogito ergo sum sedangkan dalam bahasa Perancis adalah: Je pense donc je suis. Arti dari keduanya adalah:
"Aku berpikir maka aku ada". (Ing: I think, therefore I am).

b)    Thomas Hobbes.
Thomas Hobbes (1588-1679) dilahirkan di Malmesbury, sebuah kota kecil yang berjarak 25 kilometer dari London, Inggris. Ia dilahirkan pada tanggal 15 April 1588. Ketika Hobbes dilahirkan, armada Spanyol sedang menyerbu Inggris. Ayah Hobbes adalah seorang pendeta di Westport, bagian dari Malmesbury. Ayahnya bermasalah dengan pihak gereja sehingga melarikan diri dari kota tersebut dan meninggalkan Hobbes untuk diasuh oleh pamannya.
Pada tahun 1603-1608, Hobbes belajar di Magdalen Hall, Oxford pada usia 14 tahun. Menurut kesaksian pribadi Hobbes, ia tidak menyukai pelajaran fisika dan logika Aristoteles. Ia lebih suka membaca mengenai eksplorasi terhadap penemuan tanah-tanah baru serta mempelajari peta-peta bumi dan bintang-bintang. Karena itulah, astronomi adalah bidang sains yang mendapat perhatian dari Hobbes, dan terus digeluti oleh Hobbes. Kemudian pada masa kemudian, Hobbes juga menyesali karena ia tidak mempelajari matematika saat menempuh pendidikan di Oxford.
Hobbes sendiri ialah filosof yang beraliran empirisme. Pandangannya yang terkenal adalah konsep manusia dari sudut pandang empirisme-materialisme, serta pandangan tentang hubungan manusia dengan sistem negara.
Hobbes memiliki pengaruh terhadap seluruh bidang kajian moral di Inggris serta filsafat politik, khususnya melalui bukunya yang amat terkenal "Leviathan". Hobbes tidak hanya terkenal di Inggris tetapi juga di Eropa Daratan. Selain dikenal sebagai filosof, Hobbes juga terkenal sebagai ahli matematika dan sarjana klasik. Ia pernah menjadi guru matematika Charles II serta menerbitkan terjemahan Illiad dan Odyssey karya Homeros.



c)    John Locke.
John Locke dilahirkan pada tanggal 28 Agustus 1632 di Wrington, Somerset. Keluarganya berasal dari kelas menengah dan ayahnya memiliki beberapa rumah dan tanah di sekitar Pensford, sebuah kota kecil di bagian selatan Bristol. Selain bekerja sebagai pemilik tanah, ayah Locke bekerja juga sebagai pengacara dan melakukan tugas-tugas administratif di pemerintahan lokal.
Pada tahun 1647, Locke belajar di Sekolah Westminster, yang pada waktu itu merupakan sekolah terkenal di Inggris. Pendidikan di sana berpusat pada pelajaran bahasa-bahasa kuno, yaitu pertama-tama bahasa Latin, kemudian bahasa Yunani, dan juga bahasa Ibrani. Setelah itu, pada tahun 1652, Locke mendapat beasiswa untuk menempuh pendidikan di Sekolah Gereja Kristus (Christ Church), Oxford, dan tinggal di sana sejak bulan Mei 1652.
Locke adalah seorang filosof Inggris yang menjadi salah satu tokoh utama dari pendekatan empirisme. Selain itu, di dalam bidang filsafat politik, Locke juga dikenal sebagai filosof negara liberal. Bersama dengan rekannya, Isaac Newton, Locke dipandang sebagai salah satu figur terpenting di era Pencerahan. Selain itu, Locke menandai lahirnya era Modern dan juga era pasca-Descartes (post-Cartesian), karena pendekatan Descartes tidak lagi menjadi satu-satunya pendekatan yang dominan di dalam pendekatan filsafat waktu itu. Kemudian Locke juga menekankan pentingnya pendekatan empiris dan juga pentingnya eksperimen-eksperimen di dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.
Tulisan-tulisan Locke tidak hanya berhubungan dengan filsafat, tetapi juga tentang pendidikan, ekonomi, teologi, dan medis. Karya-karya Locke yang terpenting adalah "Esai tentang Pemahaman Manusia" (Essay Concerning Human Understanding), Tulisan-Tulisan tentang Toleransi" (Letters of Toleration), dan "Dua Tulisan tentang Pemerintahan" (Two Treatises of Government).

d)    David Hume.
David Hume (lahir 26 April 1711 – meninggal 25 Agustus 1776 pada umur 65 tahun) adalah filosof Skotlandia, ekonom, dan sejarawan. Dia dimasukan sebagai salah satu figur paling penting dalam filosofi barat dan Pencerahan Skotlandia. Walaupun kebanyakan ketertarikan karya Hume berpusat pada tulisan filosofi, sebagai sejarawanlah dia mendapat pengakuan dan penghormatan. Karyanya The History of England merupakan karya dasar dari sejarah Inggris untuk 60 atau 70 tahun sampai Karya Macaulay.
Hume merupakan filosof besar pertama dari era modern yang membuat filosofi naturalistis. Filosofi ini sebagian mengandung penolakan atas prevalensi dalam konsepsi dari pikiran manusia merupakan miniatur dari kesadaran suci; sebuah pernyataan Edward Craig yang dimasukan dalam doktrin 'Image of God'.Doktrin ini diasosiasikan dengan kepercayaan dalam kekuatan akal manusia dan penglihatan dalam realitas, dimana kekuatan yang berisi seritikasi Tuhan. Skeptisme Hume datang dari penolakannya atas ideal di dalam'.
Hume sangat dipengaruhi oleh empirisis John Locke dan George Berkeley, dan juga bermacam penulis berbahasa Perancis seperti Pierre Bayle, dan bermacam figur dalam landasan intelektual berbahasa Inggris seperti Isaac Newton, Samuel Clarke, Francis Hutcheson, Adam Smith, dan Joseph Butler.



e)    Immanuel Kant.
Immanuel Kant dilahirkan pada tahun 1724 di Königsberg, Jerman dari pasangan Johann Georg Kant, seorang ahli pembuat baju zirah (baju besi), dan Anna Regina Kant Ayahnya kemudian dikenal sebagai ahli perdagangan, namun di tahun 1730-1740, perdangangan di Königsberg mengalami kemerosotan. Hal ini memengaruhi bisnis ayahnya dan membuat keluarga mereka hidup dalam kesulitan. Ibunya meninggal saat Kant berumur 13 tahun, sedangkan ayah Kant meninggal saat dia berumur hampir 22 tahun.
Pendidikan dasarnya ditempuh Kant di Saint George's Hospital School, kemudian dilanjutkan ke Collegium Fredericianum, sebuah sekolah yang berpegang pada ajaran Pietist. Keluarga Kant memang penganut agama Pietist, yaitu agama di Jerman yang mendasarkan keyakinannya pada pengalaman religius dan studi kitab suci. Pada tahun 1740, Kant menempuh pendidikan di University of Königsberg dan mempelajari tentang filosofi, matematika, dan ilmu alam.Untuk meneruskan pendidikannya, dia bekerja sebagai guru privat selama tujuh tahun dan pada masa itu, Kant mempublikasikan beberapa naskah yang berkaitan dengan pertanyaan ilmiah. Pada tahun 1755-1770, Kant bekerja sebagai dosen sambil terus mempublikasikan beberapa naskah ilmiah dengan berbagai macam topik. Gelar profesor didapatkan Kant di Königsberg pada tahun 1770.
Karya Kant yang terpenting adalah Kritik der Reinen Vernunft, 1781. Dalam bukunya ini ia “membatasi pengetahuan manusia”. Atau dengan kata lain “apa yang bisa diketahui manusia.” Ia menyatakan ini dengan memberikan tiga pertanyaan:
·         Apakah yang bisa kuketahui?
·         Apakah yang harus kulakukan?
·         Apakah yang bisa kuharapkan?
Pertanyaan ini dijawab sebagai berikut:
·         Apa-apa yang bisa diketahui manusia hanyalah yang dipersepsi dengan panca indera. Lain daripada itu merupakan “ilusi” saja, hanyalah ide.
·         Semua yang harus dilakukan manusia harus bisa diangkat menjadi sebuah peraturan umum. Hal ini disebut dengan istilah “imperatif kategoris”. Contoh: orang sebaiknya jangan mencuri, sebab apabila hal ini diangkat menjadi peraturan umum, maka apabila semua orang mencuri, masyarakat tidak akan jalan.
·         Yang bisa diharapkan manusia ditentukan oleh akal budinya. Inilah yang memutuskan pengharapan manusia.
Ketiga pertanyaan di atas ini bisa digabung dan ditambahkan menjadi pertanyaan keempat: “Apakah itu manusia?”

f)     Arthur Schopenhauer.
Arthur Schopenhauer lahir di Danzig atau Gdańsk. Dia adalah putra dari Heinrich Floris Schopenhauer dan Johanna Schopenhauer. Kedua orang tuannya adalah keturunan orang kaya Jerman dan keluarga bangsawan.Keluarga Schopenhauer pindah ke Humburg ketika Kerajaan Prusia dikuasai Polish-Lithuanian Commonwealth kota Danzig tahun 1793. Tahun 1805, ayah Schopenhauer bunuh diri. Setelah itu, ibu Schopenhauer, Johanna pindah ke Weimar, yang kemudian menjadi pusat literatur Jerman. Kepergiannya ke sana untuk melanjutkan karirnya sebagai penulis. Setahun kemudian, Schopenhauer meninggalkan bisnis keluarganya yang ada di Humburg. Dia pergi ke Weimar dan tinggal dengan ibunya.
Schopenhauer pun kuliah dan menjadi mahasiswa di Universitas Göttingen pada tahun 1809. Pada masa perkuliahannya, dia belajar tentang metafisika dan psikologi di bawah bimbingan Gottlob Ernst Schulze, penulis buku Aenesidemus, yang mengajurkannya agar berkonsentrasi pada Plato dan Immanuel Kant. Pada tahun 1811 sampai tahun 1812, dia mengikuti kuliah dari Johann Gottlieb Fichte, seorang filosof post-Kant terkemuka dan dari seorang teolog Friedrich Schleiermacher.
Dalam perkembangan filsafat, Schopenhauer dipengaruhi dengan kuat oleh Imanuel Kant dan juga pandangan Buddha. Pemikiran Kant nampak di dalam pandangan Schopenhauer tentang dunia sebagai ide dan kehendak. Kant menyatakan bahwa pengetahuan manusia terbatas pada bidang penampakan atau fenomena, sehingga benda-pada-dirinya-sendiri (Das Ding An Sich) tidak pernah bisa diketahui manusia. Misalnya, apa yang manusia ketahui tentang pohon bukanlah pohon itu sendiri, melainkan gagasan orang itu tentang pohon. Schopenhauer mengembangkan pemikiran Kant tersebut dengan menyatakan bahwa benda-pada-dirinya-sendiri(Das Ding An Sich) itu bisa diketahui, yakni "kehendak”.


g)    Karl Heinrich Marx.
Karl Marx atau nama lengkapnya Karl Heinrich Marx (lahir di Trier, Prusia, 5 Mei 1818 – meninggal di London, Inggris, 14 Maret 1883 pada umur 64 tahun) adalah seorang filosof, pakar ekonomi politik dan teori kemasyarakatan dari Prusia.
Karl Marx adalah seseorang yang lahir dari keluarga progresif Yahudi. Ayahnya bernama Herschel, keturunan para rabi, walaupun begitu ayahnya cenderung menjadi deis, yang kemudian meninggalkan agama Yahudi dan beralih ke agama resmi Prusia, Protestan aliran Lutheran yang relatif liberal untuk menjadi pengacara. Herschel pun mengganti namanya menjadi Heinrich. Saudara Herschel, Samuel — seperti juga leluhurnya— adalah rabi kepala di Trier. Keluarga Marx amat liberal dan rumah Marx sering dikunjungi oleh cendekiawan dan artis masa-masa awal Karl Marx.
Walaupun Marx menulis tentang banyak hal semasa hidupnya, ia paling terkenal atas analisisnya terhadap sejarah, terutama mengenai pertentangan kelas, yang dapat diringkas sebagai "Sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya adalah sejarah pertentangan kelas", sebagaimana yang tertulis dalam kalimat pembuka dari Manifesto Komunis.

h)    Charles Robert Darwin.
            Charles Robert Darwin (Charles Darwin) dilahirkan di Shrewsbury, Shropshire, Inggris, di rumah keluarganya, the Mount House. Ia adalah anak kelima dari enam bersaudara dari seorang dokter yang kaya, Robert Darwin dan Susannah Wedgwood. Kakeknya, Erasmus Darwin dari pihak ayah dan Josiah Wedgwood dari pihak ibunya. Keduanya berasal dari keluarga Inggris terkemuka, keluarga Darwin — Wedgwood yang mendukung gereja Unitarian. Ibunya meninggal dunia ketika Charles masih berusia delapan tahun. Ketika pada tahun berikutnya ia bersekolah di Sekolah Shrewsbury yang tidak begitu jauh, ia tinggal di asrama sekolah itu.
            Ia adalah seorang naturalis Inggris yang teori revolusionernya meletakkan landasan bagi teori evolusi modern dan prinsip garis keturunan yang sama (common descent) dengan mengajukan seleksi alam sebagai mekanismenya. Teori ini kini dianggap sebagai komponen integral dari biologi(ilmu hayat).
            Darwin sudah lama berpikir tentang evolusi ide bahwa semua species berhubungan satu sama lain dan mempunyai "common ancestor" (berasal dari satu garis keturunan) dan melalui mutasi species baru muncul. Namun dia masih penasaran tentang mekanisme bagaimana proses itu terjadi. Secara kebetulan, ia membaca tulisal-tulisan Thomas Malthus. Malthus berpendapat bahwa populasi manusia bertambah lebih cepat daripada produksi makanan, sehingga menyebabkan manusia bersaing satu sama lain untuk memperebutkan makanan dan menjadikan perbuatan amal sia-sia. Dengan gembira Darwin menggunakan mekanisme ini untuk menjelaskan teorinya. Ia menulis: "Manusia cenderung untuk bertambah dalam tingkat yang lebih besar daripada caranya untuk bertahan. Akibatnya, sesekali ia harus berjuang keras untuk bertahan, dan seleksi alam akan memengaruhi apa yang terletak di dalam jangkauan ini." (Descent of Man, Ps.21) Ia menghubungkan hal ini dengan temuan-temuannya mengenai spesies-spesies yang terkait dengan tempat-tempat, penelitiannya tentang pengembang-biakan binatang, dan gagasan tentang "hukum seleksi alam" (Natural Selection).
            Menjelang akhir 1838 ia membandingkan ciri-ciri seleksi para peternak dengan seleksi alam menurut teori Malthus dari varian-varian yang terjadi "secara kebetulan" sehingga "setiap bagian dari struktur yang baru diperoleh sepenuhnya dipraktikkan dan disempurnakan", dan menganggap bahwa ini adalah "bagian yang paling indah dari teori saya" tentang bagaimana spesies-spesies itu bermula.

i)     John Stuart Mill.
            John Stuart Mill lahir di Pentonville, London, Inggris, 20 Mei 1806 – meninggal di Avignon, Perancis, 8 Mei 1873 pada umur 66 tahun.
 Dia adalah seorang filosof empiris dari Inggris. Ia juga dikenal sebagai reformator dari utilitarianisme sosial. Ayahnya, James Mill, adalah seorang sejarawan dan akademisi. Ia mempelajari psikologi, yang merupakan inti filsafat Mill, dari ayahnya. Sejak kecil, ia mempelajari bahasa Yunani dan bahasa Latin.Pada usia 20 tahun, ia pergi ke Perancis untuk mempelajari bahasa, kimia, dan matematika. Mill lahir pada tahun 1806 dan meninggal dunia pada tahun 1973.
            Menurut Mill, psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan dasar yang menjadi asas bagi filsafat. Di sini, pandangannya berbeda dengan Comte. Tugas psikologi adalah menyelidiki apa yang disajikan oleh kesadaran, artinya sistem indrawi manusia dan hubungan-hubungannya. Mill berpendapat bahwa satu-satunya sumber bagi segala pengenalan adalah pengalaman. Oleh karena itu, induksi menjadi jalan kepada pengenalan.
            Di dalam etika, Mill melihat hubungan timbal-balik antara manusia secara pribadi dengan masyarakat atas dasar prinsip utilitarianisme. Dengan demikian, tindakan yang dilakukan oleh manusia bertujuan membawa kepuasan bagi dirinya sendiri secara psikologis, bukan orang lain atau nilai-nilai. Dia adalah seorang pendukung Utilitarianisme, sebuah teori etika yang dikembangkan oleh filosof Jeremy Bentham.

j)     Paul Gerhard Natorp.
            Paul Gerhard Natorp lahir pada 24 Januari 1854 – meninggal pada 17 Agustus 1924 pada umur 70 tahun.
            Dia adalah seorang pendidik dan filosof dari Jerman. Dia adalah seorang neo-Kantian yang bersekolah di Marburg. Di sana dia menerapkan pandangan pada tafsir Plato dan metode keilmuwan.
            Pada tahun 1910, dia menulis karya berjudul The Logical Basis of the Excact Sciences. Dalam karyanya itu dia mempertimbangkan logika dan epistemologi yang dapat menjadi kebebasan psikologi. Hukum pemikiran bukanlah hukum alam, bukan juga teologi. Natorp berpikir bahwa bahwa hakikat benda yang dikemukakan Kant merupakan konsep yang terbatas, sebuah kenyataan ideal yang tidak pernah dicapai. Dia berbicara dari obyek-obyek sebagai pengetahuan yang tetap. Etika-etika, dunia pendidikan, dan filsafat sosial adalah tahap dari pendidikan sosial atau teori tentang tatanan dari kehendak manusia. Pendidikan seharusnya mengajarkan bagaimana seseorang dapat berbuat kebaikan dengan diawali dari kehendak yang dilatih. Salah satu kata yang diambil dari Kant adalah Apriori, yaitu sesuatu yang sudah ada dalam pikiran sebelum bertemu pengalaman. Jadi, pikiran bisa dididik agar dapat memikirkan yang baik, sehingga ketika bertemu dengan realitas, maka tetap memikirkan kebaikan.
            Sebagaimana Kant, Natorp juga memandang bahwa agama bersandar pada ketiadaan perasaan obyek, karakter yang tidak dapat dijelaskan dari perubahan kepda perasaan keabadian. Bagi Natorp, inti dari agama adalah ide kemanusiaan, berdasar pada kesadaran moral secara umum. Di sini nyata warisan Kant yang mengatakan bahwa Allah melampaui penelitian manusia, Dia hanya didapat dalam kesadaran moral.

k)    William James.
            William James lahir di New York City, New York, Amerika Serikat pada 11 Januari 1842 dan meninggal dunia di Tamworth, New Hampshire, Amerika Serikat pada tanggal 26 Agustus 1910 pada umur 68 tahun.
            Dia adalah seorang filosof dari Amerika Serikat, yang terkenal sebagai salah seorang pendiri Mazhab Pragmatisme. Selain sebagai filosof, James juga terkenal sebagai seorang psikolog. Ia dilahirkan di New York pada tahun 1842. Setelah belajar ilmu kedokteran di Universitas Harvard, ia belajar psikologi di Jerman dan Perancis.
            William James menentang pandangan sebelum dia bahwa kesadaran tidak mewujudkan kesatuan lahiriah. Ia justru menyatakan bahwa kesadaran adalah suatu fungsi yang bersumber dari pengalaman murni. Pengalaman murni adalah perubahan-perubahan yang terus dari kehidupan manusia dan akan menjadi bahan refleksi manusia pada masa depan. Oleh karena itu, James menolak adanya kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, dan bersifat tetap serta berdiri sendiri. Menurut James kebenaran selalu dapat diubah dan direvisi oleh pengalaman murni.


l)     John Dewey.
            John Dewey adalah seorang filosof dari Amerika Serikat, yang termasuk Mazhab Pragmatisme. Selain sebagai filosof, Dewey juga dikenal sebagai kritikus sosial dan pemikir dalam bidang pendidikan.
            Dewey dilahirkan di Burlington pada tahun 1859. Setelah menyelesaikan studinya di Baltimore, ia menjadi guru besar dalam bidang filsafat dan kemudian dalam bidang pendidikan pada beberapa universitas. Sepanjang kariernya, Dewey menghasilkan 40 buku dan lebih dari 700-an artikel. Dewey meninggal dunia pada tahun 1952.
            Menurut Dewey, tugas filsafat adalah memberikan pengarahan bagi perbuatan nyata dalam kehidupan. Oleh karena itu, filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran-pemikiran metafisik belaka. Filsafat harus berpijak pada pengalaman, dan menyelidiki serta mengolah pengalaman tersebut secara kritis. Dengan demikian, filsafat dapat menyusun suatu sistem nilai atau norma.

m)  Max Scheller.
            Max Scheler adalah seorang filosof Jerman yang berpengaruh dalam bidang fenomenologi, filsafat sosial, dan sosiologi pengetahuan. Ia berjasa dalam menyebarluaskan fenomenologi Husserl.
            Scheler dilahirkan pada tahun 1874 di Muenchen dan meninggal dunia di Frankfurt pada tahun 1928.
            Inti pemikiran filsafat Scheler adalah nilai. Berbeda dengan Mill yang mengatakan bahwa manusia bertindak berdasarkan kepuasan diri, Scheler menyatakan bahwa nilai adalah hal yang dituju manusia. Jika ada orang yang mengejar kenikmatan, maka hal itu bukan demi kepuasan perasaan, melainkan karena kenikmatan dipandang sebagai suatu nilai. Nilai tidak bersifat relatif, melainkan mutlak. Nilai bukan ide atau cita-cita, melainkan sesuatu yang kongkret, yang hanya dapat dialami dengan jiwa yang bergetar dan dengan emosi.

n)    Karl Theodor Jaspers.
            Karl Theodor Jaspers adalah seorang filosof eksistensialis dari Jerman. Ia lahir pada tahun 1883 dan meninggal pada tahun 1969. Semula Jaspers bekerja sebagai psikiater, namun pada tahun 1621, ia bekerja sebagai dosen filsafat di Heidelberg. Jaspers hidup pada masa Nazi berkuasa dan mengalami kesulitan-kesulitan karena istrinya berdarah Yahudi. Pada tanggal 14 April 1945, Jaspers dan istrinya diputuskan akan dibawa ke kamp konsentrasi. Namun ternyata Amerika Serikat menduduki Heidelberg dan mengalahkan Jerman pada Perang Dunia II. Sesudah perang, Jaspers menjadi penulis soal-soal politik, dan berpindah ke Swiss.
            Pemikiran filsafat Jaspers berakar kuat pada Kierkegaard, namun banyak juga dipengaruhi oleh para filosof lain, seperti Plotinos, Spinoza, Kant, Schelling, dan Nietzsche. Jika dibandingkan dengan para filosof eksistensialisme lain, Jaspers adalah filosof yang pemikirannya memperlihatkan suatu sistem yang rapi. Karya Jaspers yang paling penting untuk mengetahui pemikirannya adalah "Filosofi" yang ditulis pada tahun 1932. Pemikiran Jaspers yang paling dikenal adalah tentang "chiffer-chiffer" dan "Situasi Batas". Ada empat "Situasi Batas" yang menentang manusia untuk mewujudkan dirinya dengan lebih penuh, yaitu:
§  Kematian.
§  Penderitaan.
§  Perjuangan.
§  Kesalahan.
"Situasi Batas" ini bersifat mendua, sebab eksistensi seseorang dapat berkembang maju atau malah mundur ketika berhadapan dengan "Situasi Batas" tersebut. Hal itu tergantung dari pilihan yang diambil oleh orang tersebut.

o)    Gabriel Marcel.
            Gabriel Marcel adalah seorang filosof dari Perancis, dan merupakan salah satu filosof fenomenologi dan eksistensialis yang berpengaruh besar di Perancis. Selain sebagai filosof, ia dikenal juga sebagai musisi, kritikus drama, dan pengarang. Tulisan-tulisan filsafat Marcel seringkali ditulis dalam bentuk drama.
            Marcel dilahirkan pada tahun 1889 di Paris.  Ayahnya seorang Katolik dan ibunya keturunan Yahudi. Kematian ibu kandungnya membuat Marcel hidup dalam ketidakbahagiaan, karena ayahnya menikah lagi. Namun berkat kunjungannya ke luar negeri (Jerman dan Italia) menjadikan dia berpikir terbuka sejak semula menjadi filosof. Ia mendapatkan gelar sarjana dalam filsafat pada tahun 1910 di Universitas Sorbonne pada usia 20 tahun. Pada awalnya ia tertarik dengan idealisme dan menolak positivisme, namun kemudian mengikuti eksistensialisme.
            Sebagai filosof sekaligus dramawan, dia tidak memisahkan aktivitas itu, malah drama merupakan salah satu cara terbaik dalam mengungkapkan gagasan pikirannya sekaligus langsung berdampak pada orang banyak. Dia menyebutnya "kehidupan memanjat ke pemikiran", di mana yang utama adalah hidup itu sendiri yang kemudian dipikirkan. Dengan menekankan kaitan antara realitas dan pemikiran, maka dia menolak rasionalisme dan empirisme yang selama ini mendominasi filsafat modern. Dia bertolak dari cara eksistesialisme, warisan atau pengaruh dari Kierkegaard, Heidegger dan Jasper. Eksistensi adalah seluruh kompleks yang meliputi semua faktor kongkret, hal ini dari peristiwa hidup yang digumuli secara pribadi oleh Marcel. Eksistensi tidak lebih penting dari esensi atau obyektifitas, dan hal ini dapat dialami dan bermakna ketika manusia memiliki relasi dengan manusia lain. Peralihan itu memiliki 3 fase yaitu admiration (kekaguman), reflextion (perenungan) dan exploration (eksplorasi).
            Marcel menyatakan bahwa manusia tidak dapat hidup sendirian, melainkan harus bersama manusia-manusia lainnya. Akan tetapi, manusia juga memiliki kebebasan yang bersifat otonom. Otonomi inilah yang membuat manusia dapat melakukan pilihan, yaitu mengatakan "ya" atau "tidak" terhadap segala sesuatu yang dihadapinya. Akan tetapi, manusia harus juga terbuka terhadap orang lain. Jika tidak, manusia akan menjadi terasing, bukan saja dari sesamanya, tetapi dari dirinya sendiri.
            Kekaguman kepada apa yang ada pada diri kita, kemudian kita refleksikan apa yang kita kagumi. Fase kekaguman meliputi dua hal:
i.          abstrak, analistis, obyektif, universal, dapat diverifikasi, dan
ii.          tidak memikirkan logika, namun dialog, tidak memikirkan obyek namun persona. tahap ini dapat menguak ada namun juga tetap tersembunyi.
            Fase yang ketiga adalah eksplorasi yang melampaui pemikiran aktif, di sinilah kita menemukan yang ekspisit (psikoanalisa ontologis).


BAB III
PENUTUP
Ø  Kesimpulan.
       Seperti poin pertama di atas, bahwa masa modern ialah identitas dari filsafat modern yang tentunya juga memiliki peranan yang sangat penting dalam konsep pemikiran pada masa modern. Masa modern terjadi setelah adanya gerakan Renaissance, dimana gerakan ini juga yang berperan dalam konsep pemikiran modern. Konsep pemikiran yang mengacu pada gerakan keagamaan, hal ini bertujuan terciptanya proses kehidupan yang lebih baik dengan keagamaan sebagai landasannya.
       Prinsip keagamaan disini diupayakan tergabung dengan konsep pemikiran yang terbuka terhadap kebebasan, yang tak hanya patuh dan terbebani oleh gereja. Dalam prosesnya, hal ini di cetuskan oleh Rene Descartes. Descartes sangat berjasa dalam proses perkembangan ini. Kehidupan akan lebih baik bila unsur agama dan kebebasan dipersatukan dan menjadi sebuah pedoman, pemikiran pun tercipta secara rasional.
       Namun dalam perkembangannya, unsur kebebasan semakin diperhatikan lewat tentangan dari beberapa filosof lain yang kurang menyetujui konsep Descartes ini. Yang menurutnya pengetahuan ialah sesuatu yang nyata dan hanya bisa dibuktikan dengan pengamatan secara empiris (Locke & Hume). Setelahnya ada pertentangan-pertentangan lain yang menyebutkan bahwa dalam proses pembuktian ilmu pengetahuan tak hanya secara empirisme namun juga secara rasional, disini tak perlu lagi terkekang oleh gereja (Kant).
       Pada dasarnya konsep pemikiran pada masa modern ini didasarkan oleh dua hal tersebut yaitu pembuktian secara filsafatis/rasional dan juga empiris/nyata, yang tak hanya terpaut pada keagamaan sebagai segala sumber pemikiran. Mereka cenderung lebih berpikir kritis dan nyata dalam perkembangannya.
       Setelah ditemukannya konsep pemikiran yang demikian muncullah beberapa filosof yang memiliki pemikiran sendiri tentang proses kehidupan seperti Charles Darwin, Paul Natorp dll. Dan perkembangan ilmu pengetahuan ini pun tak hanya akan berhenti disini tetapi akan terus berkembang sejalan dengan arus perkembangan jaman.



Ø  Dartar Pustaka



       Akhmadi, Asmoro. 2007. Filsafat Umum. Jakarta:PT. RajaGrafindo Persada.



3 komentar: